Halo Lagi!

Halo Lagi!

Februari
Sudah lama SiMbok tidak bercerita, nih. Bermula dari persiapan kami hendak ke Jakarta dengan kendaraan pribadi dan berlanjut dengan seabreg kegiatan di SiMbok setelah pulang dari Jakarta hingga sekarang. Hehehe.

Pada Januari 2012 yang lalu, ada dua acara pernikahan yang kami hadiri di Jakarta. Waktunya pun bersamaan! Baik itu akad nikah, maupun walimah (resepsi). Acara yang satu dari pihak SiMbok dan satu lagi dari pihak Bapake. Hohoho! Bagaimana tidak bingung? Belum lagi keputusan kami untuk ke Jakarta dengan kendaraan pribadi mendapatkan ketidakrelaan dari para eyang.

Hmmm, mungkin lebih enak lagi jika SiMbok menceritakan perjalanan ke Jakarta dalam episode tersendiri. Seperti biasanya. Yah, ini sekadar menyapa dan “mengasah” SiMbok untuk kembali rajin menulis. 

Selamat Tahun Baru 2012

Selamat Tahun Baru 2012

Dah ketahuan, kan, mau nulis apa? Hehehe.

Ada beberapa hal yang menjadi poin penting pembelajaran bagi SiMbok dalam mengasuh anak-anak selama setahun ini. Tahun pertama Dedek Uma telah dilewati dengan baik dan penuh kesabaran. Memasuki tahun kedua ini, emosi SiMbok mulai diaduk-aduk, mulai diuji kesabarannya. Maklum, Dedek Uma dah mulai bisa “bertingkah”. Apalagi dengan Kakak Ay yang sudah masuk tahun ketujuh dan sebentar lagi naik tingkat (maksudnya, jadi anak SD. hehehe).

Namun, untuk tema ini, rasanya SiMbok belum bisa berbagi lebih jauh dengan pembaca.

Selamat Tahun Baru 2012. Semoga kita masih berjumpa lagi dalam catatan-catatan SiMbok berikutnya. Semoga SiMbok bisa merangkai peristiwa Kakak dan Dedek dalam sebuah tulisan yang lebih nyaman dibaca dan tentunya memberi manfaat bagi yang membaca. :) Semoga para pembaca dimudahkan segala urusannya. *peluk erat*

Kartu untuk Ibu

Kartu untuk Ibu

Sejak beberapa hari sebelum Hari Ibu, Kakak Ay sudah sibuk sendiri di kamarnya. SiMbok dilarang masuk! SiMbok dilarang mencari tahu apa yang sedang dia lakukan!

Oke, deh, Kakak ….

Tapi, karena anaknya memang enggak bisa enggak cerita, Kakak Ay pun keceplosan cerita, “Aku tuh dah nggak sabar pengin kasih sesuatu ke Ibu.”
Haia …. Ketahuan, kan??? Hahaha.

“Ini sudah Hari Ibu belum?” tanya Kakak Ay sehari menjelang Hari Ibu. Hahaha.

Akhirnya, pada Hari Ibu, Kakak Ay memberikan saya sebuah kartu ucapan di atas meja makan ditutupi kain bedongnya Dedek Uma (hahaha).

Murni buatan Kakak Ay, tanpa campur tangan Bapake. :)

Aih … Kakak Ay …. Pantesan, kemarin-kemarin sibuk tanya, “Ibu suka warna apa? Kalau warna ungu? Kalau ….”

Alhamdulillah, insyaAllah nggak sebatas kartu aja, ya, Nak. Hehehe. Amin.

Karya Kakak Ay

Karya Kakak Ay

Kakak Ay sejak masih batita sudah mulai suka membikin karya tangan (making) dan menggambar. Pada usia 3,5 tahun kami mengikutkan dia pada kegiatan Art for Children di Taman Budaya Yogyakarta. Setiap Minggu pukul sepuluh pagi kami ke sana. Di sana Kakak Ay ikut kelas Seni Rupa, yang terbagi atas menggambar/melukis dan prakarya (making), per dua minggu pertemuan beruturut masing-masing bidang. Pengajarnya/pembimbingnya adalah para seniman Yogyakarta, yaitu Pak Yuswantoro Adi dan Ibu Wiwin (juga pengajar Seni di Jogja International School).

Mungkin karena bakat juga dan ketekunan Kakak Ay, banyak barang-barang bekas bisa jadi karya di tangannya. Beberapa contohnya ini ….

Sayangnya, Kakak Ay masih suka “terintimidasi” teman-teman. Maksudnya begini. Setiap pertemuan berlangsung selama dua jam. Nah, Kakak Ay kadang-kadang suka “keburu capek” dan malas melanjutkan karyanya ketika melihat teman-temannya sudah selesai. Walah …. Tidak hanya itu, kadang-kadang Kakak Ay masih suka mengintip gambar teman yang lain. Hasilnya, gambarnya itu-itu aja meskipun berbeda karakter.

Sekarang, sih, Kakak Ay sudah mulai bisa menemukan gayanya meskipun masih butuh bimbingan dari kami. Hal yang paling menakjubkan dari Kakak Ay, kami sering berpikir Ini anak mau gambar apa, sih? eh, ternyata hasilnya di luar dugaan. Warnanya bikin kami terheran-heran.

Kalau sudah begitu, ya, kami biarkan saja. Sebisa mungkin tidak ada intervensi dari kami. Lha, nanti karyanya oleh Ay dan ortunya, dong???

Toilet Training Bagian 1

Toilet Training Bagian 1

Usia Dedek Uma sekarang 15 bulan. Secara khusus, saya memang belum “toilet training”-kan atau menatur Dedek Uma. Paling-paling, ketika Dedek Uma terlihat seperti mau pup (maaf dan untuk selanjutnya jangan merasa aneh, ya. :D ), saya coba bawa Dedek Uma ke kamar mandi. Begitu pun ketika mau mandi, saya coba untuk mengajak Dedek Uma pipis di toilet.

Hasilnya? Kadang berhasil, kadang enggak. Hehehe. Saya juga belum telaten, sih.

Dulu saya menatur Kakak Ay ketika dia sudah mulai bisa bicara lancar (menjelang dua tahun kalau nggak salah). Namun, Kakak Ay hingga sekarang masih bermasalah di menahan pipis pada malam hari (duh … alias mengompol!). Kadang Kakak Ay bisa nahan pipis atau bangun ke kamar mandi, kadang bablas pipis di kasur. Pernah juga udah bangun dan jalan ke kamar mandi, eh … pipisnya di depan kamar mandi! Gubrak!!! Kalau dah begitu, esok paginya jika ditanya, Kakak Ay mengaku tidak ingat alias kejadian pipis di depan kamar mandi itu terjadi di alam mimpi! Ini masih jadi pe-er besar bagi kami.

Kembali ke Dedek Uma. Tadi pagi sebelum mandi, Dedek Uma saya ajak pipis.

“Ayo, pipis, Dek,” ujar saya padanya. Dedek Uma sementara ini pipisnya masih di lantai kamar mandi (berhubung belum punya pispot dan WC di rumah WC jongkok).

Di sebelah Dedek Uma bak mandinya sudah terisi air agak hangat.

Ditunggu beberapa menit, belum keluar juga. Tahu-tahu Dedek Uma masuk ke dalam bak mandinya. Hm, oke, mungkin dia belum mau pipis. Eh, belum ada satu menit Dedek Uma berdiri … cuuuuurrr. Refleks saya angkat Dedek Uma dari bak mandi. Eh, pipisnya langsung berhenti. Haduh … salah nih SiMbok. Dedek Uma jadi kagol!

Apa mau dikata … air yang sudah terisi di dalam bak mandinya saya buang, deh. Isi baru lagi. Hahaha.

Hm, jangan-jangan sudah sering Dedek Uma pipis di dalam bak mandinya, tapi nggak ketahuan karena posisinya duduk??? Haiaaaa …. Au, ah. :D

SMS dan Kacamata

SMS dan Kacamata

Suatu pagi, SiMbok sedang sibuk di dapur, klontang klonteng. Ceritanya, nih, sedang bongkar panci di rak piring. Dedek Uma main sendiri di depan tivi (yang nggak nyala).

Tahu-tahu Dedek Uma nyusul ke dapur sambil bawa hape, dengan gestur, “Ini, Bu.” Dedek Uma kasih hape ke saya. “Lho, kok, dibawa ke dapur, Dek?” tanya saya. Setelah saya lihat, ternyata ada SMS! Hahaha. Rupanya dia mendengar suara SMS dari hape saya. Mengerti saya sedang sibuk di dapur dan nggak dengar ada suara SMS, dia bawa itu hape ke saya! Haiaaaa …. Jadi ketahuan, deh, SiMbok sering SMS-an ….. :D

Lain waktu, Dedek Uma bangun duluan daripada saya yang tertidur lagi setelah Subuhan. Ketika saya bangun (karena mendengar suara “Belanja, Bu [penjual sayur keliling naik motor]” berhenti di rumah tetangga), saya bergegas turun dari tempat tidur. Dedek Uma memanggil saya. Ketika saya menoleh, dia memberikan kacamata saya yang tergeletak di meja rias! SubhanAllah …. Bocah iki! Saya tersenyum kagum. Oh, ya, meja rias letaknya memang berdekatan dengan tempat tidur sehingga mudah baginya mengambil barang di atas meja rias dari tepi tempat tidur.

Oke, Dedek Uma yang seminggu lagi ulang bulan kelima belas, ternyata sudah paham kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Jangan salah, ya! Hehehe. Wah, jadi harus berhati-hati juga dalam tindak dan laku (haiaaaaa …). Bukankah anak kecil itu senang meniru?

Baju Renang

Baju Renang

Tiap minggu pertama setiap bulan, Kakak Ay renang bersama teman-teman sekolahnya. Berhubung sekolahnya nggak punya kolam renang, mereka ramai-ramai naik bus ke sebuah kolam renang umum yang jaraknya cukup jauh dari sekolah.

Komentar Bapake, “Renang atau main air?” ketika Kakak Ay cerita bahwa dia sudah mulai bisa renang. Hahaha.

Alkisah, pagi ini Kakak Ay sudah siap agak lebih awal daripada biasanya. Saya sedang sibuk nyiapin makanannya Dedek Uma. Segala rutinitas pada pagi hari berjalan seperti biasa, isi buku laporan (penghubung), cek pake helm, dan seterusnya. Pukul 7.40 Kakak Ay sudah berangkat . Saya masih sibuk dengan rumah dan bersiap-siap ngeloni Dedek Uma. Setelah Dedek Uma tidur, saya siap online. Baru online sebentar, Bapake ngabari bahwa Ay lupa bawa baju renang dan akhirnya pinjem sepupunya yang tinggal deket sekolahnya. Haiaaa ….

Di sekolah, ketika jemput Kakak Ay, gurunya cerita, “Handuknya pinjem punya Pika. Kebetulan, ya, dia bawa handuk dua. Terus, minumnya dibagi Egen.” Hahahaha, ampun, deh. Entah mengapa, pagi itu saya bisa lupa selupa lupanya. Biasanya ngecek jadwal yang terpampang di kulkas.

Tahun depan Kakak Ay sudah SD. Harus lebih teliti karena di SD peraturan lebih ketat. Jangan sampai ada yang tertinggal. Iya, kalau sekolahnya dekat rumah, kalau jauh? Hohoho.

Tentang Kakak Ay dan Dedek Uma (1)

Tentang Kakak Ay dan Dedek Uma (1)

Postingan perdana, nih. ;)

Mari kita mulai dengan bercerita tentang Kakak Ay dan Dedek Uma. 

Kakak Ay dan Dedek Uma lahir dan besar di Jogja. Mereka lahir melalui operasi sesar karena indikasi medis (kapan-kapan saya akan cerita proses kelahiran mereka).

Mereka terpaut 5 tahun 2 bulan. Menurut saya, sih, cukupan. Kami (terutama saya yang hamil) sengaja menjaga jarak kehamilan anak pertama dan kedua.  Salah satu “syarat” ketika itu ialah menunggu Kakak sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik (setidaknya dah sekolah) sehingga kelak bisa membantu SiMbok ketika hamil dan ikut menjaga adiknya kelak. Berhubung, sehari-hari saya memang tidak memakai jasa ART 24 jam plus pengalaman masa kecil saya yang kurang oke dengan adik (hohohoho).

Akhirnya, saya baru merasa siap untuk hamil lagi ketika Kakak Ay berumur 4 tahun. Sebulan setelah lepas IUD, Alhamdulillah saya hamil. Dedek Uma pun lahir pada September 2011 pada UK 39 minggu.

Jika masih diberi kesempatan untuk hamil anak ketiga, kayaknya nggak akan menunggu selama itu. Hehehe. Itung-itung umur SiMbok juga, nih. Hahaha.

Alhamdulillah, Kakak Ay sudah bisa ikut jaga Dedek Uma meski harus diingatkan untuk beberapa hal. Di rumah, yang bisa membuat Dedek Uma tertawa terpingkal-pingkal, ya, Kakak Ay. Orang yang bisa membuat Dedek Uma menangis meraung-raung, ya, Kakak Ay juga. Hihihihihi. Lengkap, deh. Sebentar lagi, mulai ada pertengkaran kecil karena Dedek Uma sudah mulai merebut mainan atau buku Kakak Ay, nih. Waaaaaahhhhhh ….. Semoga saja semua bisa terkendali dengan baik.

 

*bersambung